Lulusan SMA Jadi Penyumbang Pengangguran Terbesar
Meski lulusan SMK memiliki tingkat pengangguran tertinggi, jumlah penganggur terbanyak justru berasal dari lulusan SMA.
BPS membedakan dua indikator yang sering disalahartikan, yakni Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan distribusi pengangguran berdasarkan pendidikan.
TPT menggambarkan persentase penganggur dibandingkan jumlah angkatan kerja pada masing-masing jenjang pendidikan. Sementara itu, distribusi pengangguran menunjukkan komposisi seluruh penganggur berdasarkan latar belakang pendidikan.
Pada Mei 2026, lulusan SMA menyumbang 28 persen dari total penganggur di Indonesia.
Posisi berikutnya ditempati lulusan SMK sebesar 22,39 persen, SD ke bawah 17,18 persen, SMP 15,65 persen, Diploma IV, S1, S2, dan S3 sebesar 14,31 persen, serta Diploma I, II, dan III sebesar 2,48 persen.
Dengan demikian, meskipun peluang menganggur paling tinggi dialami lulusan SMK, jumlah penganggur secara keseluruhan masih didominasi lulusan SMA karena jumlah angkatan kerjanya lebih besar.
Lulusan Perguruan Tinggi Juga Hadapi Tantangan
Data BPS juga menunjukkan lulusan perguruan tinggi masih menghadapi tantangan memasuki pasar kerja.
Kelompok lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencatat TPT sebesar 6,09 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan Diploma I hingga III yang sebesar 4,75 persen.
Di sisi lain, lulusan pendidikan tinggi masih memiliki proporsi relatif kecil dalam total penduduk bekerja.
BPS mencatat hanya 10,75 persen penduduk bekerja berasal dari kelompok Diploma IV hingga S3, jauh di bawah lulusan SD ke bawah maupun SMA.





