Rusia Tetap Lanjutkan Perang Meski Disanksi
Rusia juga menjadi salah satu negara yang dinilai mampu bertahan di tengah tekanan sanksi Barat setelah invasinya ke Ukraina.
Sanksi terhadap Moskwa memberikan dampak besar terhadap ekonomi, namun Presiden Vladimir Putin tetap melanjutkan operasi militernya.
Rusia disebut mengembangkan berbagai jalur perdagangan alternatif melalui negara seperti Armenia, Azerbaijan, dan Kazakhstan untuk mendapatkan barang-barang penting, termasuk kebutuhan industri dan konsumsi.
Selain itu, masih terdapat celah dalam kebijakan sanksi yang memungkinkan Rusia mempertahankan sebagian pendapatan dari sektor energi.
Pada Mei, beberapa mekanisme ekspor energi disebut masih memberikan tambahan pendapatan sekitar 2,4 miliar dolar AS atau Rp42 triliun.
Meski demikian, sanksi global tetap memberikan tekanan signifikan. Pemerintah Inggris memperkirakan sanksi telah memangkas pendapatan Rusia hingga sedikitnya 450 miliar dolar AS atau Rp8.018 triliun, sementara pertumbuhan ekonominya diperkirakan hanya sekitar 1 persen tahun ini.
Korea Utara Manfaatkan Jalur Alternatif Pendanaan
Korea Utara juga menjadi negara yang tetap bertahan meski berada di bawah tekanan sanksi internasional.
Pyongyang terus mengembangkan program nuklirnya sekaligus mencari sumber pendanaan baru untuk menopang ekonomi domestik.
Pejabat Amerika Serikat menyebut Korea Utara menggunakan pencurian aset kripto serta jaringan perbankan luar negeri untuk memperoleh dan mencuci dana.
Perusahaan analitik Chainalysis memperkirakan Korea Utara telah mengumpulkan lebih dari 6 miliar dolar AS atau Rp106 triliun dalam beberapa tahun terakhir melalui aktivitas peretasan aset kripto.
Dana tersebut diduga digunakan untuk membiayai program negara dan aktivitas ekonomi dalam negeri.





