Wall Street Ditutup Beragam, Pasar Waspadai Harga Minyak Tinggi dan Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga Minyak dan Suku Bunga Jadi Sorotan Pasar

Di sisi lain, harga minyak mentah sempat turun ke level terendah dalam sepekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington tengah melakukan “pembicaraan yang baik” dengan Iran dan masih melihat peluang tercapainya kesepakatan damai.

Meski demikian, Trump memperingatkan bahwa serangan militer AS akan kembali dilanjutkan apabila negosiasi gagal membuahkan hasil.

Harga minyak sebelumnya sempat melonjak pada pekan lalu. Kontrak berjangka minyak mentah Brent bahkan menembus level 100 dollar AS per barrel setelah terjadi serangan baru terhadap jalur pengiriman di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 4 Persen Usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai

Menurut Bill Merz, Head of Capital Markets Research and Portfolio Construction di U.S. Bank Asset Management Group, pasar saat ini masih berada dalam fase rotasi sektor investasi.

“Hari ini merupakan kelanjutan dari rotasi pasar yang telah kita saksikan. Sebagian dari reaksi pasar mungkin terkait dengan munculnya dugaan bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan segera terjadi,” ujarnya.

Baca Juga :  Pramono Anung Yakin Obligasi DKI Jakarta Rp 3,5 Triliun Tak Bebani Gubernur Berikutnya

Harga minyak mentah Brent kemudian merosot sekitar 8 persen ke kisaran 89 dollar AS per barrel setelah Washington secara tiba-tiba menangguhkan kampanye serangan udara selama dua pekan terhadap Iran pada Sabtu lalu. Langkah tersebut menjadi perubahan strategi terbaru pemerintahan Trump dalam konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.

Sejalan dengan penurunan harga minyak, saham-saham sektor energi turut mengalami pelemahan. Saham Occidental Petroleum tercatat anjlok 4,1 persen, sedangkan Exxon Mobil ditutup melemah 1,4 persen.

Pos terkait