Ia menjelaskan, penggalangan dana tersebut merupakan inisiatif sosial dari komunitas koperasi, bukan bagian dari program kelembagaan pemerintah.
“Kami di grup Dinas Koperasi kabupaten/kota bersama gerakan koperasi seluruh Indonesia menggalang dana kemanusiaan untuk memberikan sedikit keringanan bagi keluarga korban,” tegas Endy.
Menurut Endy, para peserta yang mengikuti program tersebut merupakan sumber daya manusia (SDM) pilihan yang diproyeksikan menjadi penggerak pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.
“Kita membutuhkan tenaga mereka. Mereka yang terpilih ini memiliki nilai yang bagus-bagus. Bahkan berdasarkan informasi saat asesmen, rata-rata memiliki IQ di atas 120. Artinya, mereka sangat potensial dan sangat bermanfaat untuk pengembangan KDMP,” jelasnya.
Ia berharap pelaksanaan program serupa ke depan dievaluasi agar tidak kembali menimbulkan korban jiwa.
“Harapan saya ke depannya tidak ada lagi korban. Kita membutuhkan tenaga dan kompetensi mereka, terutama untuk menjalankan koperasi ini dengan baik ke depan,” imbuh Endy.
Pelatihan Militer untuk Pengelola Koperasi Dipertanyakan
Meninggalnya lima peserta Latsarmil memunculkan kritik dari berbagai kalangan, salah satunya Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar.
Menurutnya, pelibatan institusi militer dalam pelatihan calon pengelola koperasi tidak memiliki urgensi yang jelas.
“Dalam konteks ini, saya tidak melihat urgensi peran militer dalam melakukan pelatihan koperasi Desa Merah Putih,” kata Media dalam program Kompas Petang di KompasTV, Sabtu (27/6/2026).





