Sosok Anisa Muyassaroh, Calon Manajer Kopdes Merah Putih Asal Lamongan yang Meninggal saat Latsarmil

Ia menjelaskan, penggalangan dana tersebut merupakan inisiatif sosial dari komunitas koperasi, bukan bagian dari program kelembagaan pemerintah.

“Kami di grup Dinas Koperasi kabupaten/kota bersama gerakan koperasi seluruh Indonesia menggalang dana kemanusiaan untuk memberikan sedikit keringanan bagi keluarga korban,” tegas Endy.

Menurut Endy, para peserta yang mengikuti program tersebut merupakan sumber daya manusia (SDM) pilihan yang diproyeksikan menjadi penggerak pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.

“Kita membutuhkan tenaga mereka. Mereka yang terpilih ini memiliki nilai yang bagus-bagus. Bahkan berdasarkan informasi saat asesmen, rata-rata memiliki IQ di atas 120. Artinya, mereka sangat potensial dan sangat bermanfaat untuk pengembangan KDMP,” jelasnya.

Baca Juga :  Terungkap Peran Para Tersangka dalam Dugaan Korupsi Program MBG, Kejagung Tetapkan Andri Mulyono

Ia berharap pelaksanaan program serupa ke depan dievaluasi agar tidak kembali menimbulkan korban jiwa.

“Harapan saya ke depannya tidak ada lagi korban. Kita membutuhkan tenaga dan kompetensi mereka, terutama untuk menjalankan koperasi ini dengan baik ke depan,” imbuh Endy.

Pelatihan Militer untuk Pengelola Koperasi Dipertanyakan

Meninggalnya lima peserta Latsarmil memunculkan kritik dari berbagai kalangan, salah satunya Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar.

Baca Juga :  Diduga Sarat Kepentingan Politik, Seleksi Pimpinan BAZNAS Sarolangun Disorot: LP3 NKRI Minta Proses Diaudit

Menurutnya, pelibatan institusi militer dalam pelatihan calon pengelola koperasi tidak memiliki urgensi yang jelas.

“Dalam konteks ini, saya tidak melihat urgensi peran militer dalam melakukan pelatihan koperasi Desa Merah Putih,” kata Media dalam program Kompas Petang di KompasTV, Sabtu (27/6/2026).

Pos terkait