Menurutnya, faktor alergi makanan seharusnya menjadi perhatian dalam penyusunan menu yang diberikan kepada siswa.
“Ada yang mungkin alergi telur, alergi nanas, gitu ya, alergi buah-buahan yang lain. Dan alergi ini biasanya bisa juga sangat fatal kan, bisa sampai menyebabkan kematian. Nah, ini tidak pernah menjadi pertimbangan karena menu itu selalu sama,” ujarnya.
Rika turut menyoroti penggunaan makanan ultra processed food dalam menu MBG. Ia juga menyebut susu yang disajikan terkadang memiliki kandungan gula yang tinggi.
“Padahal, hal-hal itu saya tuh berusaha mengajarkan anak-anak saya untuk menghindari atau meminimalkan lah minimal makanan-makanan semacam itu,” ungkapnya.
Pertanyakan Pembagian MBG Saat Libur Sekolah
Hal lain yang menjadi perhatian Rika adalah pemberian makanan MBG ketika siswa sedang menjalani masa libur sekolah.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menimbulkan kesulitan bagi orangtua karena tetap harus datang ke sekolah untuk mengambil makanan yang disediakan.
“Jadi, itu agak aneh karena anaknya tidak sekolah tapi kami harus datang ke sekolah untuk mengambil MBG. Ini kan merepotkan ya apalagi misalnya yang memang sedang liburan ke luar kota. Jadi, kadang-kadang akhirnya sering sekali tidak dimakan juga, tidak diambil, entah bagaimana sekolah kemudian harus mengurusi soal waste itu, soal sampah itu,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Rika berpendapat bahwa anggaran pendidikan yang digunakan untuk Program Makan Bergizi Gratis dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain di sektor pendidikan, termasuk pengembangan fasilitas perpustakaan dan program pendukung pembelajaran lainnya.





