Warga Keluhkan Bau Menyengat
Lurah Kedaung Kali Angke, Muchamad Ghufri Fatchani, mengatakan dampak yang paling banyak dikeluhkan warga akibat penumpukan sampah adalah munculnya bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi tersebut.
“Alhamdulillah kalau untuk kesehatan enggak ada, tapi kalau masalah bau iya (mengeluhkan),” kata Ghufri.
Menurut Ghufri, lokasi tersebut sejak lama difungsikan sebagai tempat pembuangan sampah sementara (TPS) bagi warga RW 03.
“Ini sebenarnya dari turun-temurun, sudah lama sekali merupakan tempat pembuangan sampah dari satu RW, yaitu RW 3. Ini tanahnya milik Departemen Agama,” katanya.
Ia menjelaskan, sebelumnya lokasi tersebut sempat dibersihkan karena lahannya akan dimanfaatkan oleh Kementerian Agama.
“Departemen Agama telah datang, telah bersurat ke kami, dan kami telah melakukan beberapa kali rapat untuk penanganan sampah ini. Namun ya itu lagi, terkendalanya masih tercampur sampahnya, sehingga yang dibuang banyak, belum dipilah di masing-masing rumah,” papar Ghufri.
Penumpukan Sampah Dipicu Kendala Distribusi ke Bantar Gebang
Ghufri menjelaskan penumpukan sampah mulai terjadi dalam beberapa bulan terakhir, bertepatan dengan munculnya kendala distribusi sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
“Jadi penumpukan sampah ini penyebabnya utamanya adalah distribusi pengangkutan ke Bantar Gebangnya tersendat. Itu yang pertama. Namun, waktu belum terkendala dengan Bantar Gebang, kami sempat kosongkan ini ya, karena memang akan dibuatkan sesuatu oleh Kementerian Agama, di tanah Kementerian Agama,” jelasnya.
“Namun setelah itu ada masalah Bantar Gebang, ya, sehingga penumpukan terjadi lagi,” sambung Ghufri.
Saat ini, petugas tengah melakukan pembersihan dengan mengangkut sampah secara langsung menggunakan truk pengangkut.
“Nah ini, sisa-sisa sampah ini rencananya kami akan angkut dalam 2-3 hari ini supaya selesai, bersih,” tutur Ghufri.





