Pola Restrukturisasi yang Berulang
Hipotesis tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam tiga tahun terakhir, ByteDance dan TikTok berulang kali melakukan restrukturisasi pada berbagai fungsi yang semakin banyak didukung oleh otomatisasi berbasis AI.
Jika dirangkai, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan pola transformasi organisasi yang cukup konsisten.
Pada 2024, TikTok melakukan PHK terhadap hampir 500 karyawan di Malaysia. Pada tahun yang sama, perusahaan juga memberhentikan sekitar 300 anggota tim moderator konten di Belanda.
Restrukturisasi itu berlangsung ketika TikTok meningkatkan penggunaan sistem moderasi otomatis berbasis AI untuk menangani pelanggaran kebijakan dalam skala besar.
Selanjutnya, pada 2025, TikTok mengganti tim Trust and Safety di Berlin dengan sistem AI dan pekerja kontrak. Kebijakan tersebut berdampak terhadap sekitar 150 karyawan.
Tim Trust and Safety bertugas memastikan konten video yang dipublikasikan tidak melanggar kebijakan perusahaan maupun mengandung materi berbahaya. Menurut para pekerja, mereka harus meninjau hingga 1.000 video setiap hari, dengan sebagian proses telah dibantu AI.
Memasuki 2026, selain restrukturisasi di Tokopedia Indonesia, TikTok juga dikabarkan berencana melakukan PHK terhadap hampir 300 karyawan Quality Assurance (QA) di bawah divisi Trust and Safety di Dublin, sembari mengonsolidasikan fungsi tersebut ke pusat regional lainnya.
Pada saat yang sama, TikTok menyatakan akan membuka ratusan posisi spesialis baru di Dublin yang berfokus pada teknologi keamanan platform.
Langkah tersebut dinilai menunjukkan adanya pergeseran dari pekerjaan manual menuju fungsi yang semakin berbasis AI.
Bahkan, Menteri Pengeluaran Publik Irlandia, Jack Chambers, menilai kasus tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian pasar tenaga kerja akibat perkembangan AI.





