Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Salatiga, Apriyatun, mengatakan bahwa jumlah sapi di tingkat peternak saat ini mengalami penurunan, kondisi yang sudah dirasakan sejak sekitar dua tahun terakhir.
“Sejak wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dulu itu, peternak kemudian takut memelihara. Kalau pun ada, jumlahnya tidak banyak,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Akibat kondisi tersebut, harga daging sapi terus mengalami kenaikan, terutama sejak Idul Fitri hingga saat ini.
Saat Idul Fitri, harga daging sapi berada di kisaran Rp125.000 per kilogram, namun kini telah mencapai sekitar Rp140.000 per kilogram.
“Terus terang karena harga tinggi, pembeli berkurang. Mereka beralih ke ayam atau yang lain. Kerugian untuk satu ekor itu berkisar Rp7 juta. Karena tidak ada pembeli, supplier rugi, pedagang juga rugi,” katanya.
Pedagang Minta Stabilitas Harga
Apriyatun menambahkan, kenaikan harga yang terus terjadi membuat para pedagang semakin resah. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pembeli di pasar.
“Kalau harga tak terjangkau, ya tidak ada pembeli. Saat ini harga daging terus naik,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa jumlah pedagang daging sapi di Pasar Raya Salatiga mencapai sekitar 100 orang.
Meski tidak berencana melakukan aksi demonstrasi, para pedagang berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga daging sapi.
“Kami berharap segera ada subsidi agar harga stabil, sehingga tidak ada yang dirugikan. Pedagang juga tidak resah,” pungkasnya.





