Mengapa Terjadi Kelangkaan BBM di Sumatera? Ini Penjelasan Pengamat, DPR, dan Pertamina

Disparitas Harga Picu Peralihan Konsumen

Selain persoalan distribusi, Fahmy menyebut selisih harga yang cukup lebar antara Pertamax dan Pertalite turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Menurutnya, banyak konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite karena perbedaan harga yang signifikan.

“Dengan tidak diturunkan harga Pertamax, maka disparitas harga Pertamax ke Pertalite ini jadi tinggi sekali. (Bedanya) Sekitar Rp 6.250,” ujarnya.

Akibatnya, permintaan terhadap Pertalite meningkat dan berpotensi menimbulkan kelangkaan apabila tidak diimbangi dengan penyesuaian kuota dan distribusi.

Baca Juga :  BI Rate Naik 100 Basis Poin, Risiko Kredit Macet dan Cicilan KPR Membayangi Kelas Menengah

“Karena dalam semacam itu, konsumen yang rasional khususnya menengah ke bawah yang biasa pakai Pertamax, akan pindah ke Pertalite, sehingga kuota Pertalite tadi dan mungkin solar juga, itu jadi kurang. Maka terjadinya kelangkaan,” tutur Fahmy.

Pendapat serupa disampaikan Ketua Komisi XII DPR, Bambang Patijaya. Ia mengatakan Pertamina menjelaskan adanya peralihan penggunaan BBM nonsubsidi ke BBM subsidi di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Dokumen P-APBK Belum Masuk DPRK, Pembahasan Gaji 3.200 PPPK Lhokseumawe Belum Dimulai

“Adanya shifting daripada masyarakat yang tadinya menggunakan produk-produk BBM spek tinggi non-subsidi, beralih kepada BBM subsidi,” ujar Bambang di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Selain itu, Bambang mengungkapkan adanya laporan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi oleh pihak tertentu yang kemudian dijual kembali kepada sektor industri.

“Bahkan sudah banyak melakukan operasi tangkap tangan, dan kemudian juga dalam kegiatannya juga melibatkan aparat hukum,” jelas Bambang.

Pos terkait