Menurut Susi, dirinya sempat diajak tinggal bersama di sebuah rumah kos di kawasan Ujung Berung. Pada awal perkenalan, ia menilai Taufik sebagai sosok yang baik sehingga mendapat kepercayaan dari keluarganya.
“Orangtuaku percaya, soalnya dia omongannya baik,” kata Susi.
Namun, setelah tinggal bersama, Susi mengaku sering menerima perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Ia menyebut Taufik kerap memaksakan keinginannya dan marah apabila ditolak.
“Kalau misalkan dia ‘minta’, suka marah-marah kalau nggak ini gitu. Suka banting helm sama sepatu,” ujarnya.
Hubungan keduanya kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, rumah tangga tersebut hanya bertahan selama dua minggu sebelum akhirnya berakhir.
Pernikahan Hanya Bertahan Dua Minggu
Susi mengungkapkan bahwa selama menjalani pernikahan, Taufik memiliki sifat temperamental, mudah memperbesar persoalan kecil, serta sangat pencemburu.
“Kalau masalah kecil tuh digede-degein, cemburuan banget,” katanya.
Ia juga mengaku Taufik kerap meminta kembali mahar dan cincin tunangan setiap kali terjadi pertengkaran.
“Jadi kalau misalkan marah, ‘sini mas kawin’. Sering kayak gitu. Jadi cincin tunangan sama mas kawin dibawa semua. Pas nikah dikasih emas 10 gram,” tutur Susi.
Merasa tidak sanggup menghadapi kondisi tersebut, Susi akhirnya meminta dipulangkan ke rumah orang tuanya, terlebih saat dirinya tengah mengandung.
“Terus pas hamil mohon-mohon, pulangin ke rumah,” ucapnya.
Selain itu, ia mengaku selama tinggal bersama tidak diperbolehkan beraktivitas bebas di luar rumah.





