Peran Lionel Scaloni dan Messi
Banyak pihak menilai keberhasilan membangun mental juara Argentina tidak lepas dari kepemimpinan Lionel Scaloni sejak 2018.
Scaloni disebut berhasil menciptakan lingkungan yang solid dan mendukung Lionel Messi sebagai pemimpin di lapangan.
Messi, yang kini berusia 39 tahun dan telah mengoleksi delapan Ballon d’Or, terus menjadi sosok sentral dalam perjalanan Argentina dalam beberapa tahun terakhir.
Kolaborasi Scaloni dan Messi membawa Argentina meraih dua gelar Copa America secara beruntun dan mengantarkan tim meraih gelar Piala Dunia ketiga pada edisi Qatar 2022.
Presiden Asosiasi Psikologi Olahraga Argentina, Pablo Nigro, menilai tim ini mampu mengubah tekanan menjadi motivasi untuk berkembang.
“Tim ini melihat tekanan sebagai peluang untuk peningkatan diri, untuk keunggulan,” ujar Nigro.
Menurut Nigro, karakter tersebut terbentuk dari perpaduan antara budaya sepak bola dan tingginya ekspektasi masyarakat Argentina terhadap prestasi.
“Kita hidup di negara yang sangat berorientasi pada kesuksesan, sejak usia muda kita terus-menerus diharapkan untuk menang.”
Nilai Pengorbanan dan Kerendahan Hati
Antropolog Federico Czesli, yang meneliti sistem pembinaan sepak bola profesional di Universitas San Martin, menilai karakter pemain Argentina juga dibentuk sejak usia dini.
Ia menjelaskan bahwa akademi sepak bola di Argentina menanamkan nilai pengorbanan, kerja keras, dan kerendahan hati kepada para pemain muda.
Banyak pesepak bola Argentina berasal dari keluarga sederhana, sehingga mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk membalas jasa keluarga dan pelatih yang telah mendukung perjalanan karier mereka.
“Kerendahan hati memberi pemain… alat utama untuk mengatasi kesulitan dan terus maju,” kata Czesli.
Di luar lapangan, dukungan luar biasa dari suporter Argentina juga menjadi faktor penting yang membentuk mental para pemain.
Menurut Czesli, para suporter tidak hanya menginginkan kemenangan, tetapi juga menuntut para pemain memberikan seluruh kemampuan mereka di setiap pertandingan.
“Suporter pada umumnya menuntut pemain Argentina bukan hanya bermain cantik, tetapi juga memberikan segalanya.”
“Selama itu terjadi, kamu akan pergi dengan kepala tegak.”
Mentalitas pantang menyerah itulah yang kini diharapkan kembali menjadi pembeda saat Argentina menghadapi Spanyol pada final Piala Dunia 2026 dan berupaya mempertahankan status mereka sebagai juara dunia.





