Kelas Menengah Jadi Kelompok Paling Rentan
Dampak kenaikan suku bunga tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi yang membeli properti premium umumnya tidak terlalu terpengaruh karena banyak transaksi dilakukan secara tunai atau bertahap tanpa ketergantungan besar terhadap kredit perbankan.
Sebaliknya, masyarakat kelas menengah yang mengandalkan fasilitas KPR dinilai menjadi kelompok yang paling rentan.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menilai kenaikan suku bunga saat ini masih tergolong moderat. Namun risiko akan semakin besar apabila kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya hidup dalam periode yang panjang.
“Jika kenaikan suku bunga terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya hidup dalam periode yang panjang, maka segmen hunian menengah yang sangat bergantung pada KPR akan menjadi kelompok yang paling terdampak,” kata Ferry.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan perbankan dan pengembang memperkuat kerja sama dengan menawarkan tenor yang lebih fleksibel atau memperpanjang program suku bunga tetap (fixed rate).
Menurutnya, strategi tersebut dapat membantu mengurangi tekanan terhadap konsumen di tengah potensi kenaikan bunga mengambang hingga akhir tahun.
Selain itu, masyarakat juga disarankan lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, menunda penambahan utang konsumtif, dan memperkuat dana darurat.
Dilema Menjaga Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi
Ekonom senior sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai langkah agresif Bank Indonesia merupakan strategi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mencegah arus keluar modal asing.
Menurutnya, ketika pasar saham mengalami tekanan dan surplus neraca perdagangan menurun, BI Rate menjadi salah satu instrumen utama untuk mempertahankan daya tarik investasi, khususnya pada Surat Berharga Negara (SBN).
Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi berupa perlambatan aktivitas ekonomi.
“Dilemanya, cost of fund dunia usaha akan naik, baik bagi UMKM maupun sektor lainnya. Ketika biaya dana meningkat, risiko kredit macet juga naik dan biasanya ekonomi ikut melambat. Konsumsi masyarakat pun cenderung menurun,” jelas Tauhid.
Untuk mengurangi risiko kredit bermasalah yang lebih luas, Tauhid mendorong pemerintah dan otoritas terkait menyiapkan kebijakan pendukung seperti restrukturisasi kredit, keringanan bunga, hingga penguatan subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kemampuan debitur memenuhi kewajiban keuangan di tengah periode suku bunga tinggi.





