CEO Cloudflare Prediksi Gelombang PHK Akibat AI Meningkat dalam 6-12 Bulan ke Depan

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin luas di berbagai sektor bisnis diperkirakan akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan mendatang.

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Cloudflare, Matthew Prince, memperingatkan bahwa dampak AI terhadap pasar tenaga kerja diprediksi akan semakin terlihat dalam enam hingga 12 bulan ke depan.

Menurut Prince, banyak pemimpin perusahaan saat ini mulai mempertimbangkan pengurangan jumlah karyawan seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menjalankan tugas-tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia.

Baca Juga :  Schneider Electric Ungkap Peran Digitalisasi dan AI dalam Transformasi Energi Global

“Saat saya berbicara dengan rekan-rekan sesama pemimpin perusahaan, hampir semuanya mengatakan, ‘Ya, saya akan melakukan itu (PHK massal).’ Namun mereka juga mengatakan akan melakukannya ketika perusahaan lain mulai melakukannya,” kata Prince, Rabu (24/6/2026).

Ia menilai pendekatan tersebut justru berisiko memperburuk kondisi pasar tenaga kerja. Jika banyak perusahaan melakukan PHK dalam waktu yang bersamaan, peluang pekerja yang terdampak untuk memperoleh pekerjaan baru akan semakin kecil.

“Dalam enam hingga 12 bulan ke depan, ketika kita mulai melihat lebih banyak PHK seperti ini, akan jauh lebih sulit bagi mereka yang kehilangan pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan baru,” ujarnya.

Baca Juga :  Fosil Dinosaurus Terbesar Asia Tenggara Ditemukan di Thailand, Hidup 113 Juta Tahun Lalu

Cloudflare Pangkas Sekitar 20 Persen Karyawan

Pernyataan Prince muncul setelah Cloudflare melakukan restrukturisasi besar-besaran pada Mei 2026.

Perusahaan penyedia layanan keamanan dan infrastruktur internet tersebut mengumumkan pengurangan sekitar 20 persen tenaga kerja globalnya. Kebijakan itu berdampak pada lebih dari 1.100 karyawan dan menjadi PHK terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Pos terkait