Cloudflare menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari transformasi menuju era “agentic AI”, yakni sistem kecerdasan buatan yang mampu menjalankan tugas dan mengambil keputusan secara lebih mandiri.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi AI secara internal meningkat hingga 600 persen, yang menjadi salah satu faktor pendorong perubahan struktur organisasi.
Prince mengatakan keputusan melakukan PHK lebih awal dianggap sebagai langkah yang lebih baik bagi para karyawan dibanding menunggu hingga kondisi serupa terjadi secara luas di berbagai perusahaan.
“Begitu kami menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, kami memutuskan bahwa tindakan paling baik bagi tim adalah melakukannya secepat mungkin,” kata Prince.
Raksasa Teknologi Ikut Lakukan Efisiensi
Cloudflare bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja di tengah perkembangan AI.
Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Oracle, Coinbase, Robinhood, Salesforce, Meta, dan Microsoft juga dilaporkan melakukan efisiensi karyawan dengan alasan peningkatan produktivitas dan optimalisasi operasional berbasis AI.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran terkait berkurangnya kebutuhan tenaga kerja pada sejumlah bidang pekerjaan, terutama posisi administratif dan operasional yang bersifat rutin dan berulang.
Kinerja Cloudflare Tetap Bertumbuh
Meski melakukan PHK dalam jumlah besar, Cloudflare menegaskan kebijakan tersebut bukan dipicu oleh tekanan keuangan perusahaan.
Dalam laporan keuangan kuartalan terbaru, perusahaan membukukan pendapatan sebesar 639,8 juta dollar AS atau meningkat 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.





