Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (11/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke Iran. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan mendorong investor kembali memburu aset aman atau safe haven.
Mengutip Bloomberg, harga emas di pasar spot sempat melonjak hingga 1,1 persen setelah sebelumnya mengalami penurunan dengan besaran yang hampir sama.
Pergerakan harga yang fluktuatif terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik berkepanjangan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.
Pada pukul 10.05 waktu Singapura, harga emas spot tercatat naik 0,6 persen menjadi 4.097,73 dollar AS per ons. Penguatan tersebut terjadi setelah emas sempat anjlok lebih dari 4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Tidak hanya emas, harga perak juga menguat 1 persen menjadi 63,96 dollar AS per ons. Sementara itu, platinum dan paladium turut mencatat kenaikan. Di sisi lain, indeks dollar AS Bloomberg melemah 0,1 persen.
Konflik AS dan Iran Semakin Memanas
Penguatan harga emas terjadi setelah militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Langkah tersebut dilakukan setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran memperlambat proses negosiasi terkait kesepakatan perdamaian sementara antara kedua negara.
Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kapal yang melintas. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia karena menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Serangan terbaru ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketidaksabaran pemerintahan Trump terhadap mandeknya proses diplomasi yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Hingga memasuki bulan keempat, konflik masih berlangsung tanpa adanya tanda-tanda penyelesaian yang jelas.
Perang yang berkepanjangan juga telah mengganggu arus distribusi energi melalui Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi global.

