Inflasi Amerika Serikat Meningkat
Sentimen pasar semakin tertekan setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2026 naik 0,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 4,2 persen secara tahunan.
Angka tersebut menjadi tingkat inflasi tertinggi sejak awal tahun 2023.
Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi lebih tinggi.
Situasi ini meningkatkan kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga guna menekan laju inflasi.
Investor Lakukan Penyesuaian Portofolio
Meski berhasil menguat pada perdagangan terbaru, harga emas masih berada sekitar 22 persen di bawah level sebelum pecahnya perang Iran pada akhir Februari lalu.
Penurunan harga emas yang sempat menembus rata-rata pergerakan 200 hari atau 200-day moving average turut memicu aksi jual tambahan di pasar. Level tersebut selama ini menjadi salah satu indikator teknikal yang banyak diperhatikan investor institusi.
Konsultan pasar logam mulia sekaligus mantan trader JPMorgan Chase & Co., Robert Gottlieb, menilai gejolak harga emas saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian portofolio investor dibandingkan perubahan pandangan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Menurut Gottlieb, derasnya arus informasi yang sering kali saling bertentangan terkait perkembangan konflik membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan meningkatkan likuiditas.
Ia menilai pelemahan harga emas yang terjadi belakangan lebih dipicu oleh aksi pengurangan leverage dan reposisi portofolio, bukan karena berkurangnya daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah tingginya ketidakpastian global.

