“Tujuannya ya memang ingin tahu karena penasaran dengan IKN. Kita kan sama-sama pejabat negaranya, masak kita ndak tahu istana negara yang baru. Itu aja, gak ada motif lain,” katanya.
Takjub dengan Perkembangan Ibu Kota Baru
Basyaruddin menuturkan kunjungan tersebut juga menjadi ajang mempererat kebersamaan sekaligus kenang-kenangan menjelang berakhirnya masa jabatan para kepala desa.
Ia mengaku terkesan dengan perkembangan pembangunan IKN yang dinilai berjalan cepat dan menunjukkan perubahan signifikan dibanding kondisi sebelumnya.
“Kalau dari pandangan mata saya, sangat kagum melihat arsitekturnya. Yang asalnya hutan terus menjadi kota seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, suasana kawasan pusat IKN pada sore hari menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama kunjungan berlangsung.
Biaya Perjalanan Capai Rp100 Juta
Basyaruddin menegaskan seluruh biaya perjalanan ke IKN berasal dari dana mandiri dan tidak menggunakan anggaran pemerintah maupun dana desa.
Ia menjelaskan total biaya perjalanan sekitar Rp100 juta berasal dari kas paguyuban yang dikumpulkan selama satu tahun serta tambahan dana pribadi masing-masing kepala desa.
Kas paguyuban tersebut bersumber dari iuran rutin sebesar Rp200.000 yang dibayarkan setiap kali anggota mengikuti rapat koordinasi mingguan.
“Seluruhnya pakai uang kas paguyuban, sisanya ditambah uang pribadi. Setiap Rabu kita kan ada acara kumpul-kumpul, di situ ada iuran rutinnya,” kata Basyaruddin.
“Seluruhnya kemarin kurang lebih habis Rp100 juta. Tetapi kami pastikan bahwa itu tidak ada uang APBD ataupun APBDes,” tambahnya.





