Trump: Dana yang Dibekukan Itu Milik Iran
Dalam kesepakatan yang ditandatangani pada Rabu (17/6/2026), Presiden AS Donald Trump disebut berkomitmen untuk membuat aset Iran yang dibekukan “tersedia sepenuhnya untuk digunakan” serta melanjutkan negosiasi terkait mekanisme pencairannya.
Seorang pejabat AS mengatakan dana tersebut akan mulai mengalir selama Iran terlibat secara produktif dalam proses perundingan yang sedang berlangsung.
Skema bersama Qatar itu juga akan berjalan berdampingan dengan pendapatan Iran dari sektor ekspor minyak.
Sebelumnya, Washington telah menyetujui pengecualian sanksi serta memberikan otorisasi yang diperlukan agar transaksi terkait dapat dilakukan setelah kesepakatan diteken.
Trump menegaskan bahwa dana yang selama ini dibekukan pada dasarnya bukan merupakan milik AS.
“Kami telah mengambil uang mereka, itu bukan uang kami, itu uang mereka, dan kami membekukannya,” kata Trump kepada wartawan di sela pertemuan G7 di Perancis.
“Pada suatu titik saya kira kami harus mengembalikannya.”
Dana Beku Jadi Instrumen Diplomasi AS
Direktur Timur Tengah di Chatham House, Sanam Vakil, menilai pelepasan aset dalam jumlah terbatas dapat menjadi bantuan ekonomi sekaligus sinyal politik untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
“Bahkan pelepasan aset yang terbatas berfungsi sebagai penyelamat ekonomi dan sinyal politik deeskalasi,” kata Vakil.
“Ini adalah salah satu dari sedikit insentif konkret yang dapat diperoleh Iran dari Washington untuk menstabilkan mata uangnya dan mengurangi tekanan ekonomi dalam negeri.”
Meski demikian, rencana tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sebelumnya menyatakan bahwa Trump menyetujui penghentian permusuhan karena “keputusasaan”.
Pernyataan tersebut kemudian dibalas Trump melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa bukan AS yang berada dalam posisi terdesak, melainkan Iran. Trump juga menekankan bahwa tidak akan ada pencairan dana tanpa adanya perkembangan dalam implementasi kesepakatan yang telah dibuat.





