“Program MBG ini sangat luar biasa. Bukan hanya menyerap ribuan tenaga kerja di Blitar tetapi juga petani, nelayan, peternak dan pelaku UMKM yang selama ini menjadi pemasok SPPG,” kata Bambang.
Menurutnya, keberadaan sekitar 160 SPPG di Blitar telah menjadi penggerak ekonomi masyarakat karena turut melibatkan sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.
Selain itu, Bambang menyebut setiap SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 orang sehingga secara keseluruhan lebih dari 5.000 tenaga kerja terserap.
“Itu semua di luar manfaat pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah di Blitar untuk menciptakan generasi mendatang yang tangguh dan cerdas,” ujarnya.
Mitra Disebut Telah Berinvestasi hingga Rp3 Miliar
Bambang mengatakan pihaknya mendukung langkah evaluasi maupun efisiensi yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap Program MBG.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa para mitra telah mengeluarkan investasi yang cukup besar untuk membangun dapur SPPG.
Menurutnya, setiap mitra menginvestasikan dana sekitar Rp1 miliar hingga Rp3 miliar untuk membangun dapur beserta fasilitas pendukung, termasuk dua unit mobil boks sebagai sarana distribusi makanan.
“Nilai investasi untuk satu SPPG ini cukup besar dan sampai saat ini para mitra ini belum balik modal,” ujarnya.
Bambang juga mengklaim tidak seluruh mitra SPPG merupakan pengusaha besar.
Menurutnya, terdapat sejumlah dapur SPPG yang dibangun secara gotong royong oleh pengusaha kecil dengan memanfaatkan dana patungan maupun pinjaman perbankan.





