Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 4 Persen Usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai

Pasar Mulai Menghitung Pemulihan Pasokan Minyak

Kepala Analisis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pasar mulai memperhitungkan pulihnya pasokan minyak global.

“Premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak kini mulai terkikis cukup agresif karena para pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pulihnya arus pasokan minyak,” kata Waterer.

Selama penutupan Selat Hormuz, banyak negara melakukan penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), bahkan sebagian di antaranya menaikkan harga bensin. Indonesia termasuk negara yang terdampak kondisi tersebut.

Penutupan jalur strategis itu menyebabkan hilangnya jutaan barel pasokan minyak dan gas dunia selama lebih dari tiga bulan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Baca Juga :  Benarkah Sertifikat Tanah Bisa Kedaluwarsa? Ini Penjelasan Lengkap BPN

Analis Soroti Potensi Pemulihan Pasar Energi

Investor kini juga memantau kecepatan negara-negara produsen minyak di Timur Tengah dalam memulihkan produksi dan ekspor energi setelah kerusakan akibat perang. Selain itu, pelaku pasar mencermati kemungkinan meningkatnya kembali aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Analis Komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai pasar minyak berpotensi kembali ke kondisi sebelum konflik apabila arus pasokan melalui Selat Hormuz dapat pulih.

“Meski ketidakpastian ini menciptakan risiko kenaikan terhadap proyeksi kami, bahwa harga minyak Brent bisa mencapai 80 dollar AS per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih ke 60-70 persen dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak ke kondisi kelebihan pasokan seperti sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Menlu AS Marco Rubio Temui Paus Leo XIV di Vatikan, Bahas Perdamaian dan Konflik Timur Tengah

Sementara itu, Analis Pasar IG, Tony Sycamore, menilai harga minyak mentah masih sulit turun lebih dalam dalam waktu dekat karena ketidakpastian masih membayangi proses negosiasi lanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan meskipun negara-negara E4 yang terdiri dari Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia pada Minggu (15/6/2026) menyatakan kesiapan mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas langkah-langkah yang diambil Teheran terkait program nuklirnya.

“Melihat masih adanya ketidakpastian dalam putaran negosiasi berikutnya selama 60 hari ke depan, khususnya terkait isu nuklir, sulit membayangkan harga minyak mentah akan turun jauh lebih dalam dalam waktu dekat,” kata Sycamore.

Pos terkait