Jarak Insiden Terlalu Jauh dari Proses Terjadinya Gol
Scott juga menyoroti lokasi terjadinya duel yang berada hampir 100 yard atau sekitar 90 meter dari gawang Argentina.
Menurutnya, setelah insiden tersebut masih terdapat rangkaian permainan yang cukup panjang sebelum bola akhirnya masuk ke gawang.
Selain itu, Argentina juga masih memiliki cukup banyak pemain untuk kembali menyusun organisasi pertahanan.
“Semakin jauh jarak dan semakin lama waktu antara sebuah insiden dengan terciptanya gol, maka dugaan pelanggaran yang terjadi harus benar-benar serius agar layak membatalkan gol. Dalam kasus ini, tidak ada pelanggaran yang memenuhi ambang batas tersebut,” jelas Scott.
Ia bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk perluasan peran VAR yang berlebihan.
“Itu adalah intervensi yang mengejutkan dan bentuk perluasan peran VAR yang terlalu jauh. VAR seharusnya hanya mengoreksi kesalahan yang benar-benar jelas,” ujarnya.
Penolakan Penalti untuk Mesir Dinilai Sudah Tepat
Meski mengkritik keputusan pembatalan gol Mesir, Scott justru mendukung keputusan wasit yang tidak memberikan hadiah penalti kepada Mesir pada masa injury time.
Insiden itu terjadi saat Mohamed Salah terjatuh di dalam kotak penalti setelah mendapat kontak dari pemain Argentina.
Menurut Scott, kontak tersebut sangat minim dan tidak cukup kuat untuk dianggap sebagai pelanggaran.
“Ada sedikit kontak pada sepatu Salah, tetapi tidak cukup untuk membuatnya terjatuh. Itu bukan pelanggaran,” tulis Scott.
Karena itu, ia menilai dua insiden kontroversial tersebut harus dipisahkan.
Menurut Scott, gol Mostafa Ziko seharusnya disahkan, sementara keputusan tidak memberikan penalti kepada Mesir sudah tepat. Dengan demikian, gol kemenangan Enzo Fernandez pada masa injury time tetap sah.





