Astronom: Meteor Hancur di Atmosfer
Sementara itu, astronom amatir Marufin Sudibyo menilai fenomena yang terekam dalam berbagai video memiliki karakteristik meteor superterang atau bolide.
“Secara umum ketampakan kilatan cahaya itu menunjukkan gejala-gejala meteor. Tepatnya meteor superterang yang disertai fragmentasi dan suara dentuman. Astronomi menyebutnya bolide,” ujarnya.
Menurut Marufin, salah satu ciri meteor jenis tersebut adalah cahaya kehijauan yang menandakan batuan antariksa mengandung unsur nikel.
Ia menjelaskan bahwa meteoroid tertentu, terutama yang berasal dari pecahan asteroid, umumnya mengandung besi dan nikel dengan perbandingan massa sekitar 10 banding 1.
Selain cahaya hijau, dentuman yang didengar warga juga merupakan karakteristik meteor superterang. Suara tersebut berasal dari sonic boom ketika meteoroid memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi sebelum melambat dari kecepatan supersonik menjadi subsonik.
Berdasarkan analisis awal, Marufin memperkirakan meteor berasal dari meteoroid berdiameter sekitar satu meter.
Objek tersebut diperkirakan melintas dari arah timur laut menuju barat daya sekitar pukul 21.40 WIB dan terlihat dari wilayah utara Yogyakarta hingga Cirebon dengan panjang lintasan di permukaan Bumi sekitar 400 kilometer.
Menurutnya, meteoroid tersebut merupakan pecahan asteroid dekat-Bumi kelas Apollo yang mengorbit Matahari di antara orbit Venus dan orbit Bumi dengan periode sekitar 0,94 tahun.
Meski demikian, Marufin menegaskan meteoroid itu tidak mencapai permukaan Bumi karena telah hancur di atmosfer pada ketinggian sekitar 46 hingga 48 kilometer.
“Peristiwa ini secara statistik terjadi setiap 26 hari sekali (rata-rata) di Bumi. Sehingga sesungguhnya bukanlah hal yang jarang terjadi,” pungkasnya.





