Dari Tekanan Maksimal ke Opsi Negosiasi
Pada awal perang, Trump menegaskan tidak akan melakukan negosiasi dengan Iran kecuali Teheran menyerah tanpa syarat.
Ia juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya akan membantu membangun kembali Iran jika tuntutan tersebut dipenuhi.
Namun dalam perkembangan terbaru, Trump mendukung nota kesepahaman yang membuka peluang pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut juga disebut bertujuan meredakan krisis ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers di KTT G7 di Prancis pada 17 Juni, Trump mengatakan tidak ingin melihat Iran mengalami kehancuran ekonomi.
“Satu hal yang tidak ingin saya lihat adalah bencana ekonomi,” ujar Trump.
Perubahan Target Militer
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan industri rudal Iran serta membatasi kekuatan kelompok sekutu Iran di kawasan.
Namun dalam perkembangan berikutnya, ia mengubah pendekatan dengan menyebut Iran masih memiliki hak untuk memiliki rudal seperti negara lain di kawasan, dan isu tersebut tidak lagi menjadi prioritas utama.
Kelompok proksi Iran seperti Hizbullah juga tidak lagi disebut sebagai target penghancuran langsung, melainkan akan dibahas dalam jalur diplomasi.
Meski demikian, Trump tetap mempertahankan satu tuntutan utama, yakni Iran tidak boleh memiliki akses menuju senjata nuklir.
Sikap Ekonomi terhadap Iran Ikut Melunak
Sebelumnya, Trump mengecam kesepakatan nuklir 2015 karena memberikan keringanan sanksi kepada Iran.
Namun dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat disebut mengizinkan penjualan minyak Iran menjelang pembicaraan nuklir, termasuk pelonggaran sanksi terkait ekspor minyak, pengiriman, hingga asuransi.
Trump juga menyebut dana Iran yang dibekukan kemungkinan perlu dikembalikan untuk menjaga stabilitas kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat.





