Viral Siswi MTs di Garut Diduga Jadi Korban Bullying hingga Pengeroyokan, Keluarga Lapor Polisi

GARUT – Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga menjadi korban bullying hingga penganiayaan yang dilakukan sejumlah pelajar.

Korban diketahui merupakan siswi MTs Maripari, Kecamatan Sukawening. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Mekarhurip pada Senin (7/9/2026) sore.

Berdasarkan penelusuran Kompas.com, korban dan para terduga pelaku diketahui tidak berasal dari sekolah yang sama. Meski demikian, mereka diduga sudah saling mengenal sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Dugaan penganiayaan itu menjadi perhatian warganet setelah video kejadian beredar dan viral di media sosial.

Dalam video berdurasi sekitar satu menit tersebut, korban terlihat mendapat tamparan dan pukulan secara bergantian dari sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku.

Baca Juga :  Gelap Gulita Melanda Sejumlah Daerah Sumatra

Kerudung yang dikenakan korban juga terlihat dipaksa dilepas dan ditarik-tarik. Dalam rekaman itu, terdengar pula ucapan yang diduga bernada menghina korban.

“Mikir sia, bisa mikir teu? (Mikir kamu, mikir bisa mikir tidak),” ucap salah seorang pelaku dalam video.

Pelaku lainnya kemudian terdengar menyahut:

“Tenggeul we, tenggeul (pukul saja pukul).”

Korban bahkan sempat tersungkur ke tanah sebelum kembali ditarik dan mengalami tindakan kekerasan.

Berdasarkan rekaman video yang beredar, terdapat sekitar delapan orang yang diduga terlibat dalam aksi penganiayaan tersebut.

Baca Juga :  Wagub Banten Bantah Putrinya Nonton Konser K-Pop Pakai APBD: Anak Saya Sudah Mandiri dan Berpenghasilan

Pihak Sekolah Masih Kumpulkan Informasi

Kepala MTs Maripari, Saep Munawar, mengatakan pihak sekolah telah menerima informasi mengenai peristiwa yang dialami siswinya.

Namun, sekolah masih mengumpulkan keterangan untuk memastikan kronologi dan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

“Kami masih menunggu informasi yang benar, detail, mengenai sekolah mana saja yang diduga melakukan bullying,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (9/9/2026).

Ia menuturkan, pihak sekolah masih mengumpulkan keterangan mengenai kronologi perundungan terhadap korban.

Sekolah juga memastikan telah berkomunikasi dengan keluarga korban terkait peristiwa tersebut.

“Kami prihatin atas peristiwa ini,” ucapnya.

Pos terkait