Trump Ancam Iran Lagi Jika Tetap Dukung Hizbullah, Singgung Serangan yang Lebih Keras

Perkembangan tersebut menjadi perhatian internasional karena sebelumnya Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 17 Juni 2026 yang mencakup penghentian permusuhan di berbagai front konflik, termasuk Lebanon.

AS Klaim Ada Kemajuan dalam Upaya Gencatan Senjata

Di tengah proses negosiasi yang berlangsung di Swiss, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyampaikan optimisme terkait kondisi di Lebanon.

Menurut Vance, terdapat perkembangan positif dalam upaya menjaga keberlangsungan gencatan senjata yang telah disepakati.

Baca Juga :  Pendiri CNN Ted Turner Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun

“Kami telah melihat kemajuan besar hanya dalam beberapa hari terakhir dalam memastikan gencatan senjata tetap bertahan di Lebanon,” ujar Vance.

Ia menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat masih berupaya mewujudkan stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

“Kami semua bekerja menuju perdamaian regional. Saya sebenarnya merasa sangat baik dengan kondisi kami di Lebanon. Masih ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus dilakukan, tetapi kami akan terus mengupayakannya,” katanya.

Baca Juga :  Trump Klaim Perang Iran Berakhir, Batalkan Rencana Serangan Besar ke Teheran

Vance juga menilai pemerintahan Trump telah memainkan peran penting dalam meredakan konflik di Lebanon.

Menurut dia, Amerika Serikat telah melakukan lebih banyak upaya untuk menghentikan pertempuran di Lebanon dibandingkan negara lain dalam beberapa bulan terakhir.

Meski pembicaraan damai masih berlangsung, pernyataan keras Trump menunjukkan bahwa hubungan Washington dan Teheran tetap dibayangi ketegangan, terutama terkait pengaruh Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Pos terkait