Profil Tommy Robinson, Tokoh Anti-Imigran dan Anti-Islam di Balik Aksi Unite the Kingdom

Jakarta — Tokoh sayap kanan Inggris, Tommy Robinson, kembali menjadi sorotan setelah memimpin demonstrasi bertajuk Unite the Kingdom pada akhir pekan lalu. Aksi tersebut mengangkat isu anti-imigran dan mendapat perhatian luas karena sejumlah pernyataan provokatif yang disampaikan Robinson di hadapan massa.

Dalam demonstrasi itu, Robinson menyerukan keterlibatan publik dalam gerakan politik yang ia dukung.

“Apakah Anda siap untuk Pertempuran Britania,” kata Robinson pada Sabtu (16/5), dikutip dari CNN.

Ia juga menyinggung situasi politik Inggris di tengah munculnya desakan agar Perdana Menteri Keir Starmer mundur dari jabatannya.

“Kalian harus terlibat dan jadi aktivis atau kita akan kehilangan negara kita selamanya,” ujarnya.

Sosok Tommy Robinson

Tommy Robinson dikenal sebagai tokoh anti-Islam dan anti-imigran di Inggris. Namanya kerap dikaitkan dengan berbagai demonstrasi sayap kanan yang menuai kontroversi.

Pada tahun lalu, Robinson juga menginisiasi demonstrasi serupa yang disebut dihadiri lebih dari 110.000 orang. Aksi tersebut berujung ricuh dan menyebabkan bentrokan dengan aparat keamanan.

Baca Juga :  Kapal Iran Tetap Melintas di Selat Hormuz Meski Blokade AS, Gunakan Jalur Pelayaran Khusus

Polisi Inggris menyebut 26 petugas mengalami luka-luka dalam kerusuhan tersebut, sementara 25 orang ditangkap.

Menurut kepolisian, sejumlah demonstran mencoba menerobos barikade, mendekati kelompok lawan aksi, hingga menyerang petugas keamanan.

Wali Kota London, Sadiq Khan, turut mengecam kerusuhan yang terjadi dalam demonstrasi tersebut.

“Kekerasan dan penyerangan terhadap polisi tak bisa diterima,” kata Sadiq Khan, dikutip CNN pada September 2025.

Dikaitkan dengan Gelombang Anti-Imigran di Inggris

Pada 2024, Robinson kembali menuai kecaman setelah dituding menjadi salah satu tokoh yang memicu sentimen anti-imigran dan anti-Islam menyusul kasus penikaman tiga anak di Merseyside pada Agustus 2024.

Ia diduga mengoordinasikan serangan yang menargetkan migran melalui unggahan di media sosial.

Aktivitas provokatif Robinson sebenarnya telah lama menjadi perhatian publik sejak dirinya memimpin kelompok English Defence League (EDL), organisasi yang dikenal memiliki pandangan Islamofobia.

Kelompok tersebut banyak diisi oleh hooligan sepak bola dan kerap menggelar demonstrasi anti-Muslim di jalanan Inggris. Aksi mereka beberapa kali berujung bentrokan dengan kelompok anti-fasis.

Baca Juga :  Wabah Muntaber di Kapal Pesiar Ambition, 1.700 Penumpang Ditahan Sementara di Prancis

EDL juga sempat dikaitkan dengan Anders Behring Breivik, pelaku serangan bom dan penembakan di Norwegia pada Juli 2011 yang menewaskan 77 orang.

Pada Desember 2011, dua pendukung EDL dijatuhi hukuman karena berencana melakukan pengeboman terhadap sebuah masjid di Stoke-on-Trent.

Pernah Tinggalkan EDL dan Dipenjara

Pada 2013, Robinson memutuskan keluar dari EDL. Ia mengaku tidak lagi mampu mengendalikan para pengikut kelompok tersebut yang dinilai semakin ekstrem.

Meski sudah meninggalkan organisasi itu, pengaruh Robinson di media sosial tetap besar dan masih memiliki pendukung di kalangan kelompok sayap kanan Inggris.

Selain dikenal sebagai mantan pemimpin EDL, Robinson juga pernah menjadi anggota British National Party (BNP), partai nasionalis sayap kanan di Inggris.

Ia juga pernah menjalani hukuman penjara terkait kasus penyerangan.

Pos terkait